Jokowi Dilaporkan karena Ajak Pendukung Pakai Baju Putih dianggap Pecah Belah Bangsa

shares

ACTA diketahui telah melaporkan Presiden Jokowi ke Bawaslu RI karena dianggap mengeluarkan pernyataan yang provokatif.

"Perbuatan Pak Jokowi selaku capres, yang di dalam kampanyenya telah menyampaikan suatu pernyataan provokatif dan secara tendensius menuduh tersebut, maka tentu saja tidak dapat dibenarkan, bahkan berpotensi melakukan pelanggaran kampanye," ungkap Koordinator ACTA Muhajir.


"Sebagaimana diketahui, Pak Jokowi telah beberapa kali menyerang capres-cawapres nomor urut 02 selaku saingannya dalam Pilpres 2019 ini, dengan pernyataan-pernyataannya yang merupakan kebohongan, antara lain seperti tentang konsultan Rusia," tegas Muhajir.

Ia juga mengungkit tentang kampanye Jokowi pada tanggal 21 Maret kemarin.

"Begitu pula terkait dengan permasalahan ini, di mana pada hari Kamis, tanggal 21 Maret 2019, di hadapan para pengusaha dan pekerja yang mendeklarasikan dukungannya, di gedung Istora Senayan, Jakarta. Pak Jokowi menyampaikan pernyataan-pernyataan yang nampak jelas provokatifnya, yang pada pokoknya sebagai berikut 'Silakan jam 10.00 pagi berangkat liburan asalkan jam 08.00-nya mencoblos dulu. Jangan biarkan satu orang pun golput, karena ini menentukan arah negara ke depan. Bapak, Ibu, mau memilih yang didukung oleh organisasi-organisasi yang itu?'" katanya.

"Terlebih dengan beredarnya surat yang ditandatangani oleh Pak Jokowi, yang berisikan imbauan 'gunakan hak pilih kita pada tanggal 17 April 2019, jangan lupa pilih yang bajunya putih, karena putih adalah kita. Kita semua ke TPS berbondong-bondong berbaju putih'. Adapun jika terjadi, maka hal tersebut sangat berpotensi pula untuk memecah belah bangsa, yakni antara yang mendukungnya yang berbaju putih dengan yang tidak," sambungnya.

loading...