Prabowo Sebut Indonesia Makin Miskin, Ekonom: Data Menunjukkan Kemajuan Ekonomi Era Jokowi

shares

Ekonom Faisal Basri mengatakan Indonesia mengalami kemajuan ekonomi dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo ( Jokowi). Dia pun memaparkan angka-angka di sektor ekonomi yang menunjukkan Indonesia mengalami banyak kemajuan salah satunya angka kemiskinan.

Faisal merincikan, angka kemiskinan mengalami penurunan dan rasio ketimpangan juga terus membaik. Selain itu, harga-harga juga terkendali.

"Yang naik itu apa sih? Hampir tidak ada. kecuali penerbangan tapi sudah diturunkan kembali. Listrik sudah tiga tahun tidak naik. Jadi justru dikendalikan," kata Faisal saat berbincang di Kompas TV, seperti dikutip Rabu (16/1).

Ucapan Faisal ini menanggapi pidato kebangsaan Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto di JCC Senayan, Jakarta, Senin 14 Januari 2019. "Inikah keadaan kondisi kejanggalan yang besar, paradoks negara kaya rakyatnya masih banyak yang miskin." kata Prabowo.

Dalam pidato tersebut, Prabowo mengungkapkan kesulitan-kesulitan yang dia nilai kini tengah dihadapi masyarakat Indonesia. "Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat laporan, seorang buruh tani, seorang bapak, bernama pak Hardi di Desa Tawangharjo, Grobokan, meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya. Almarhum gantung diri, meninggalkan isteri dan anak karena merasa tidak sanggup membayar utang, karena beban ekonomi yang dia pikul dirasa terlalu berat," jelasnya.

"Selama beberapa tahun terakhir ini, saya mendapat laporan, ada belasan cerita tragis seperti almarhum Hardi ini," tambah Prabowo.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebenarnya jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2018 mencapai 25,26 juta orang atau sebesar 9,66 persen dari total penduduk. Angka ini menurun 0,28 juta orang dibandingkan Maret 2018.

Persentase penduduk miskin pada periode Maret hingga September 2018 di daerah perkotaan mengalami penurunan sebesar 13,1 ribu orang. Sedangkan penduduk miskin di perdesaan tercatat turun sebesar 261,1 ribu orang.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap turunnya tingkat kemiskinan di Indonesia. Salah satunya adalah adanya kenaikan upah riil buruh tani dan nilai tukar petani (NTP) sepanjang Maret-September 2018.

Dia merincikan, nominal rata-rata upah buruh tani pada September 2018 baik sebesar 2,07 persen dibanding Maret 2018. Dari Rp 51.580 menjadi 52.665. "Secara riil upah buruh tani per hari pada September 2018 naik 1,60 persen dibanding Maret 2018. Sementara NTP naik sebesar 1,21 persen dibanding pada Maret 2018," kata Suhariyanto.

Selain itu faktor lain yang menekan tingkat kemiskinan adalah, laju inflasi yang terjaga. Selama periode Maret-September 2018 BPS mencatat inflasi sebesar 0,94 persen. Harga eceran beberapa komoditas pokok juga mengalami penurunan.

"Secara nasional beras turun 3,28 persen, daging sapi 0,74 persen, minyak goreng 0,92 persen dan gula pasir mengalami penurunan 1,48 persen," kata dia.

Sementara, tingkat ketimpangan atau gini ratio sebesar 0,384 pada September 2018. Angka tersebut menurun sebesar 0,005 poin jika dibandingkan dengan gini ratio Maret 2018 yang sebesar 0,389. Sementara itu, jika dibandingkan dengan gini ratio September 2017 sebesar 0,391, turun sebesar 0,007 poin.


Menteri Koordinator Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan menurunnya angka kemiskinan ini tidak lepas dari campur tangan pemerintah. Di mana, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sepanjang 2018 mulai dari dana bantuan sosial hingga dana desa.

https://www.merdeka.com/uang/pidato-prabowo-sentil-tingginya-kemiskinan-saat-ini-cek-faktanya-di-sini.html
loading...